Moslem vs Muslim

18 03 2009

Banyak yang mengira moslem merupakan terjemahan Muslim dalam bahasa Inggris.
Padahal moslem sebetulnya adalah sebutan olok-olok yang merendahkan
yang digunakan orang Barat untuk menyebut orang Islam, di samping
karena lidah mereka kesulitan mengucap Muslim (Ziauddin Sardar,
Mengenal Islam for Beginners, Mizan).

Kalau dicermati, di dalam kamus bahasa Inggris populer terbitan Oxford,
Webster, atau Longman sebetulnya juga menyiratkan akan hal itu. Kata
moslem dan Muslim memang tercantum di sana. Muslim didefinisikan
sebagai followers of Islam, relating to Islam. Sedangkan ‘moslem’
adalah variant spelling of Muslim.
Read the rest of this entry »





Islam, Kapitalisme, dan Filantropi

14 01 2009

Oleh Zaim Saidi (Wakala Induk Nusantara)

Pendahuluan

Di awal Desember 2006 lalu di beberapa media massa Indonesia tersiar sebuah pengumuman tentang diskusi publik bertajuk Indonesian Economic and Political Perspective 2007. Diskusi ini menghadirkan pembicara tunggal George Soros, Chairman dari Soros Fund Management dan Open Society Institute. Ada hal menarik dari pengumuman ini, yakni atribut dari sang pembicara tunggal tersebut, yakni Renowned Entrepreneur dan Philanthropist. Tentu atribut ini terkait erat dengan dua lembaga yang didirikan dan dipimpinnya yang telah disebutkan sebelumnya, yakni Soros Fund Management, sebuah perusahaan bisnis finansial yang tentu saja bertujuan untuk menciptakan kekayaan bagi kepentingan pribadi, dan Open Society Institute, sebuah lembaga yang misi resminya berbeda, kalau bukan berkebalikan, dari yang pertama yakni membagikan kekayaan untuk kepentingan publik. Read the rest of this entry »





Batu Kecil itu……..

31 12 2008

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi.
Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Read the rest of this entry »





Masih Banyak Orang Baik di Indonesia

20 10 2008

Kejadian ini kualami dalam perjalanan menuju ke Purwokerto untuk memenuhi undangan temanku yang menikah di Klaten. Siang itu, sekitar pukul 15.30 WIB, aku baru menyadari dompetku telah tidak di tangan saat berada di daerah Lumbir, Banyumas. Lokasi ini kurang lebih 50 km dari tempatku makan siang di RM Mergosari daerah Banjar dan Majenang (perbatasan Jabar-Jateng). Disebabkan oleh pungutan liar akibat jalan yang rusak akibat longsor dengan ngegondok aku memberi sumbangan cepe ampe gope. Ada kurang lebih lima lokasi longsor jadi gondok-ku tidak habis-habis. Pas uang recehanku mulai habis dan para pemuda pungli mulai ngambek karena tidak diberi recehan, aku tersadar akan dompet. Kayaknya di dompet ada uang recehan, jadi dompet dicari-cari.

Astaghfirullah, betapa kaget aku dompet tidak ada. Aku menyalahkan istri karena tidak menerima dompet saat kuserahin waktu akan masuk mobil untuk pulang di RM Mergosari. Dompet aku serahkan ke istri berikut gendongan si kecil. Kenyataannya, istri tidak pernah menerima dompet. Hanya gendongan bayi-lah yang diterimanya. Bumi serasa berputar, terlintas bagaimana mengurus ATM, KTP, SIM, uang tunai, dan kartu kredit yang harus diurus. Segera mobil berhenti, semua kolong mobil diperiksa. Mulailah, jantung berdebar dan istri mulai panik. Segera kami berbalik arah dan kembali bertemu pungli jalan rusak. Sambil ngomel-ngomel ke para pungli, aku matikan AC dan mulai berpikir irit bensin karena tidak ada dana di tangan. Sambil terus tancap gas, kami menenangkan diri dengan mengucapkan istighfar dan tawakal bahwa jika itu masih rezeki kami yakinlah Allah SWT akan mengembalikan dompet tersebut. Read the rest of this entry »





Pleonoxia

20 10 2008

Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir (dimuat Majalah Tempo Edisi 34/XXXVII 13 Oktober 2008)

Apa gerangan yang akan dikatakan pangeran Jawa yang meninggalkan istana itu, Ki Ageng Suryomentaram, seandainya ia hidup pada hari ini? Seandainya ia berjalan di Sudirman Business District, Jakarta, antara Pacific Place yang memamerkan benda-benda mentereng dan ruang BEJ di mana harga saham rontok, para pemilik dana panik, dan di langit-langitnya bergaung rasa cemas?

Mungkin inilah yang akan kita dengar dari Ki Ageng: ”Yang menangis adalah yang berpunya. Yang berpunya adalah yang kehilangan. Yang kehilangan adalah mereka yang ingin.”

Tapi mungkin tak seorang pun akan memahaminya.

Ia memang lain. Ia lahir pada 20 Mei 1892 di Keraton Yogyakarta . Ia pangeran ke-55 di antara sederet putra Sultan Hamengku Buwono VII. Ibunya seorang garwa ampilan. Pengeran kecil ini bersekolah di Srimenganti, yang dikelola istana. Pendidikan formalnya tipis, tapi ia berbahasa Belanda dengan baik, dan kemudian belajar bahasa Arab dan Inggris. Dan ia membaca.

Pada umur 18 ia jadi Pangeran, dengan gelar ”Bendara Pangeran Harya Suryomentaram”. Kita tak tahu bagaimana hidupnya pada masa itu, tapi ada sebuah kejadian yang membuat masa depannya berubah.

Read the rest of this entry »





Alhamdulillah Menang………

3 07 2008

Pagi itu, kurang lebih pukul 5.00 pagi, aku naik angkot cipagalo – sederhana yang masih sepi penumpang. Aku duduk sebelah sang sopir. Tiba di atas jembatan cikapundung, dekat pasar kordon seorang penumpang dengan bau alkohol yang kelihatannya teman sang sopir naik. Mereka terlibat suatu percakapan tentang kekalahan Jerman atas Kroasia. Ternyata, temannya adalah seorang preman itu terlihat dari pernyataannya yang mendapatkan minimal 10 ribu dari setoran di perempatan. Tak berapa lama sang preman turun. Aku mulai bertanya tentang pertandingan Eropa. “Anjing, abdi eleh. Kunaon eta Jerman bisa gitu. Kamari, mah alhamdulillah menang, Pak” ungkap sang sopir. “Oh…” aku terbengong-bengong atas pernyataan sang sopir. “Demi Allah, pak. Kamari menang pas Belanda lawan Itali,” begitu semangat sang sopir menegaskan. Angkot tiba di perempatan bubat, dan aku harus berganti kendaraan.

Aku enggak habis pikir, selama ini aku bercanda dengan teman-teman tentang Pak haji, anaknya judi tuh. Masya Allah…. tapi menang…. Alhamdulillah. Itu semua bukan bercanda lagi, tetapi kenyataan. Tabiq





Hikayat Ustad & Pohon Keramat

28 12 2007

Ada sebuah pohon besar yang dianggap keramat sering dikunjungi para peziarah dan pengalap berkah. Melihat semakin ramainya para peziarah, seorang ustad datang ke pohon tersebut bermaksud menebang pohon penyebab kemusyrikan umat. Ketika kapak akan diayun datang seseorang mencegah usaha tersebut. “Hei, ustad kasihanilah mereka yang datang ke sini, banyak orang yang datang ke tempat ini meminta bantuanku,” kata orang tersebut yang tak lain adalah jin penunggu pohon tersebut. “Tidak bisa, ini musyrik. Aku harus menebang dan tidak akan membiarkan kerusakan ini terjadi,” jawab ustad tersebut lantang dan tegas. Perdebatan tidak bisa diselesaikan hingga mengakibatkan perkelahian di antara keduanya. Read the rest of this entry »





Meninggal Sia-Sia

28 12 2007

Kejadian ini tidak akan menggerakkan hati saya untuk menuliskannya dalam surat ini jika kejadian itu tidak terjadi disekitar saya. Sebagaimana pembaca lain juga mengetahuinya, tayangan acara kriminal yang menjamur di berbagai stasiun televisi, misalnya DERAP HUKUM, PATROLI, SERGAP, dan BUSER. Semua yang diberitakan seakan mengingatkan kita akan bahwa angka kriminalitas semakin meningkat. Hal yang menjadi ironi pada era reformasi di mana demokrasi dan HAM harus dijunjung tinggi, tetapi angka kriminalitas semakin tinggi. Atau, mungkin hanya kerja para reporter televisi yang terlalu gencar sehingga seolah-olah kriminalitas selalu terjadi di mana-mana dan terjadi setiap saat. Hal itu semua masih memerlukan pengamatan dan penelitian lebih lanjut. Read the rest of this entry »





Mendiknas Baru, Tugas Menanti

18 12 2007

Oleh JANU MURDIYATMOKO
(dimuat PIKIRAN RAKYAT, Bandung, Rabu, 20 Oktober 2004)

BELUM lama ini, surat kabar ibu kota memuat berita tentang Bank Dunia yang menjatuhkan sanksi kepada sejumlah penerbit buku di Indonesia. RI ditagih AS$ 10 juta penyelewengan projek pengadaan buku Bank Dunia (Pikiran Rakyat, 30 September 2004). Berita tersebut menggegerkan dunia penerbitan di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, semua nama penerbit besar masuk daftar hitam lembaga kelas dunia.

Dugaan adanya penyelewengan dalam pengadaan buku ini mendapat reaksi dari penerbit. Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) selaku wadah para penerbit memberikan reaksi kepada Bank Dunia untuk meninjau ulang sanksi daftar hitam kepada 10 individu dan 26 penerbit. Selain itu, Bank Dunia juga diminta melakukan uji pembuktian sebelum menjatuhkan sanksi. Jika tidak, Ikapi menduga keluarnya daftar hitam ini lebih bermuatan politis untuk menjatuhkan citra penerbit Indonesia di mata internasional.

Read the rest of this entry »