Daripada Dianggap Tidak Cerdas

Nun di suatu negeri tinggal seorang raja yang gemar berdandan dengan berbagai jenis baju kebesarannya. Bahkan, sang raja sampai harus membentuk Staf Ahli Kerajaan Khusus Perbajuan. Suatu hari, saking sudah banyaknya baju dari berbagai jenis bahan dan model, sang raja meminta kepada staf ahlinya untuk dicarikan baju yang lain dari yang lain dan tidak akan pernah ada yang memiliki. Staf ahli ini kelimpungan mencari akal, hingga dia bertemu dengan 2 orang ahli dari negeri seberang yang konon kabarnya ahli dalam perbajuan. Karena itu, diorderlah baju sesuai permintaan raja.

Singkat cerita tibalah saatnya, ke-2 orang ahli dari negeri seberang bertemu raja dan menyerahkan baju pesanannya. “Tuan Raja, baju ini tidak akan ada yang dapat menandingi kehebatannya,” janji salah seorang ahli tersebut. “Mereka yang bisa melihat baju raja ini hanyalah orang-orang cerdas,” tambah satu lagi ahli perbajuan itu.  “Hmmm… Mana, mana, baju yang saya pesan!”, Raja begitu gembira atas perkembangan hasil pesanan khususnya. Ke-2 ahli tersebut, sibuk mengenakan baju kepada sang raja. Para staf kerajaan terbengong-bengong karena tidak melihat baju khusus itu. Akan tetapi, mereka tdk mau dianggap bodoh sehingga meng-iyakan bahwa dia melihat baju sang raja.
Read more of this post

Perbedaan Dinar, Emas Batangan, dan Koin Bulion

Republika Online – Senin, 03 Mei 2010, 12:20 WIB

JAKARTA–Pengenalan dinar-dirham kepada masyarakat telah mulai meluas. Namun selain dinar, komoditi emas lainnya seperti emas batangan dan koin emas juga memiliki nilai investasi. Lalu seperti apakah perbedaan antara ketiga komoditi itu?

Direktur Utama Wakala Induk Nusantara, Zaim Saidi, mengatakan ketiga komoditas itu berasal dari zat yang sama, namun terdapat sedikit perbedaan dari ketiganya. ”Dinar emas adalah 22 karat, batangan umumnya 24 karat. Koin emas yang lain biasanya juga 24 karat. Bedanya dengan dinar adalah kalau batangan tidak ada satuan standar, bisa mulai dari satu gram bahkan sampai satu kilogram,” jelasnya.

Sementara, tambah dia, kalau koin emas 24 karat yang disebut koin bulion biasanya satu troy ounce (31,1 gram). Selain itu untuk kandungan emas antara dinar dan emas batangan juga berbeda. Ia menjelaskan, untuk emas 24 karat kandungan emasnya sebesar 99,99 persen, sedangkan 22 karat kandungan emasnya 91,7 persen, sisanya unsur perak (8,3 persen).

Dinar, emas batangan, dan koin emas pun memiliki nilai investasi berbeda-beda. Zaim menuturkan, dinar terutama dipakai sebagai alat tukar, untuk bertransaksi dan dapat juga digunakan untuk menabung. ”Jadi ada juga efek investasinya,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk ukuran dinar cukup jelas karena memiliki standar yang sama, yaitu satu dinar adalah 4,25 gram emas, sehingga dinar dapat berfungsi sebagai currency unit. Sementara, lanjutnya, emas batangan atau koin bulion tidak bisa karena ukurannya berbeda-beda dan tidak ada standar unitnya.

Read more of this post

Moslem vs Muslim

Banyak yang mengira moslem merupakan terjemahan Muslim dalam bahasa Inggris.
Padahal moslem sebetulnya adalah sebutan olok-olok yang merendahkan
yang digunakan orang Barat untuk menyebut orang Islam, di samping
karena lidah mereka kesulitan mengucap Muslim (Ziauddin Sardar,
Mengenal Islam for Beginners, Mizan).

Kalau dicermati, di dalam kamus bahasa Inggris populer terbitan Oxford,
Webster, atau Longman sebetulnya juga menyiratkan akan hal itu. Kata
moslem dan Muslim memang tercantum di sana. Muslim didefinisikan
sebagai followers of Islam, relating to Islam. Sedangkan ‘moslem’
adalah variant spelling of Muslim.
Read more of this post

Islam, Kapitalisme, dan Filantropi

Oleh Zaim Saidi (Wakala Induk Nusantara)

Pendahuluan

Di awal Desember 2006 lalu di beberapa media massa Indonesia tersiar sebuah pengumuman tentang diskusi publik bertajuk Indonesian Economic and Political Perspective 2007. Diskusi ini menghadirkan pembicara tunggal George Soros, Chairman dari Soros Fund Management dan Open Society Institute. Ada hal menarik dari pengumuman ini, yakni atribut dari sang pembicara tunggal tersebut, yakni Renowned Entrepreneur dan Philanthropist. Tentu atribut ini terkait erat dengan dua lembaga yang didirikan dan dipimpinnya yang telah disebutkan sebelumnya, yakni Soros Fund Management, sebuah perusahaan bisnis finansial yang tentu saja bertujuan untuk menciptakan kekayaan bagi kepentingan pribadi, dan Open Society Institute, sebuah lembaga yang misi resminya berbeda, kalau bukan berkebalikan, dari yang pertama yakni membagikan kekayaan untuk kepentingan publik. Read more of this post

Batu Kecil itu……..

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi.
Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya. Read more of this post

Masih Banyak Orang Baik di Indonesia

Kejadian ini kualami dalam perjalanan menuju ke Purwokerto untuk memenuhi undangan temanku yang menikah di Klaten. Siang itu, sekitar pukul 15.30 WIB, aku baru menyadari dompetku telah tidak di tangan saat berada di daerah Lumbir, Banyumas. Lokasi ini kurang lebih 50 km dari tempatku makan siang di RM Mergosari daerah Banjar dan Majenang (perbatasan Jabar-Jateng). Disebabkan oleh pungutan liar akibat jalan yang rusak akibat longsor dengan ngegondok aku memberi sumbangan cepe ampe gope. Ada kurang lebih lima lokasi longsor jadi gondok-ku tidak habis-habis. Pas uang recehanku mulai habis dan para pemuda pungli mulai ngambek karena tidak diberi recehan, aku tersadar akan dompet. Kayaknya di dompet ada uang recehan, jadi dompet dicari-cari.

Astaghfirullah, betapa kaget aku dompet tidak ada. Aku menyalahkan istri karena tidak menerima dompet saat kuserahin waktu akan masuk mobil untuk pulang di RM Mergosari. Dompet aku serahkan ke istri berikut gendongan si kecil. Kenyataannya, istri tidak pernah menerima dompet. Hanya gendongan bayi-lah yang diterimanya. Bumi serasa berputar, terlintas bagaimana mengurus ATM, KTP, SIM, uang tunai, dan kartu kredit yang harus diurus. Segera mobil berhenti, semua kolong mobil diperiksa. Mulailah, jantung berdebar dan istri mulai panik. Segera kami berbalik arah dan kembali bertemu pungli jalan rusak. Sambil ngomel-ngomel ke para pungli, aku matikan AC dan mulai berpikir irit bensin karena tidak ada dana di tangan. Sambil terus tancap gas, kami menenangkan diri dengan mengucapkan istighfar dan tawakal bahwa jika itu masih rezeki kami yakinlah Allah SWT akan mengembalikan dompet tersebut. Read more of this post

Pleonoxia

Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir (dimuat Majalah Tempo Edisi 34/XXXVII 13 Oktober 2008)

Apa gerangan yang akan dikatakan pangeran Jawa yang meninggalkan istana itu, Ki Ageng Suryomentaram, seandainya ia hidup pada hari ini? Seandainya ia berjalan di Sudirman Business District, Jakarta, antara Pacific Place yang memamerkan benda-benda mentereng dan ruang BEJ di mana harga saham rontok, para pemilik dana panik, dan di langit-langitnya bergaung rasa cemas?

Mungkin inilah yang akan kita dengar dari Ki Ageng: ”Yang menangis adalah yang berpunya. Yang berpunya adalah yang kehilangan. Yang kehilangan adalah mereka yang ingin.”

Tapi mungkin tak seorang pun akan memahaminya.

Ia memang lain. Ia lahir pada 20 Mei 1892 di Keraton Yogyakarta . Ia pangeran ke-55 di antara sederet putra Sultan Hamengku Buwono VII. Ibunya seorang garwa ampilan. Pengeran kecil ini bersekolah di Srimenganti, yang dikelola istana. Pendidikan formalnya tipis, tapi ia berbahasa Belanda dengan baik, dan kemudian belajar bahasa Arab dan Inggris. Dan ia membaca.

Pada umur 18 ia jadi Pangeran, dengan gelar ”Bendara Pangeran Harya Suryomentaram”. Kita tak tahu bagaimana hidupnya pada masa itu, tapi ada sebuah kejadian yang membuat masa depannya berubah.

Read more of this post

Alhamdulillah Menang………

Pagi itu, kurang lebih pukul 5.00 pagi, aku naik angkot cipagalo – sederhana yang masih sepi penumpang. Aku duduk sebelah sang sopir. Tiba di atas jembatan cikapundung, dekat pasar kordon seorang penumpang dengan bau alkohol yang kelihatannya teman sang sopir naik. Mereka terlibat suatu percakapan tentang kekalahan Jerman atas Kroasia. Ternyata, temannya adalah seorang preman itu terlihat dari pernyataannya yang mendapatkan minimal 10 ribu dari setoran di perempatan. Tak berapa lama sang preman turun. Aku mulai bertanya tentang pertandingan Eropa. “Anjing, abdi eleh. Kunaon eta Jerman bisa gitu. Kamari, mah alhamdulillah menang, Pak” ungkap sang sopir. “Oh…” aku terbengong-bengong atas pernyataan sang sopir. “Demi Allah, pak. Kamari menang pas Belanda lawan Itali,” begitu semangat sang sopir menegaskan. Angkot tiba di perempatan bubat, dan aku harus berganti kendaraan.

Aku enggak habis pikir, selama ini aku bercanda dengan teman-teman tentang Pak haji, anaknya judi tuh. Masya Allah…. tapi menang…. Alhamdulillah. Itu semua bukan bercanda lagi, tetapi kenyataan. Tabiq

Hikayat Ustad & Pohon Keramat

Ada sebuah pohon besar yang dianggap keramat sering dikunjungi para peziarah dan pengalap berkah. Melihat semakin ramainya para peziarah, seorang ustad datang ke pohon tersebut bermaksud menebang pohon penyebab kemusyrikan umat. Ketika kapak akan diayun datang seseorang mencegah usaha tersebut. “Hei, ustad kasihanilah mereka yang datang ke sini, banyak orang yang datang ke tempat ini meminta bantuanku,” kata orang tersebut yang tak lain adalah jin penunggu pohon tersebut. “Tidak bisa, ini musyrik. Aku harus menebang dan tidak akan membiarkan kerusakan ini terjadi,” jawab ustad tersebut lantang dan tegas. Perdebatan tidak bisa diselesaikan hingga mengakibatkan perkelahian di antara keduanya. Read more of this post

Meninggal Sia-Sia

Kejadian ini tidak akan menggerakkan hati saya untuk menuliskannya dalam surat ini jika kejadian itu tidak terjadi disekitar saya. Sebagaimana pembaca lain juga mengetahuinya, tayangan acara kriminal yang menjamur di berbagai stasiun televisi, misalnya DERAP HUKUM, PATROLI, SERGAP, dan BUSER. Semua yang diberitakan seakan mengingatkan kita akan bahwa angka kriminalitas semakin meningkat. Hal yang menjadi ironi pada era reformasi di mana demokrasi dan HAM harus dijunjung tinggi, tetapi angka kriminalitas semakin tinggi. Atau, mungkin hanya kerja para reporter televisi yang terlalu gencar sehingga seolah-olah kriminalitas selalu terjadi di mana-mana dan terjadi setiap saat. Hal itu semua masih memerlukan pengamatan dan penelitian lebih lanjut. Read more of this post

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.